Skip to content

KOMPETENSI GURU

10 Oktober 2008

KOMPETENSI GURU

Sifat-sifat unggul, yang trkandung dalam tujuan pendidikan Nasional kita seperti, kreativitas, mengamalkan ilmu pengetahuan, membudayakan alam sekitarnya dsb. Tidak mungkin dimliki para lulusan, jika selama berada disekolah bertahun-tahun hanya mendengarkan uraian sang Guru melulu dan tidak diberi kesempatan untuk bediskusi, mengmukakan pendapat sendiri dan menarik kesipulan sendiri. Kompetensi menguasai bahan berlaku untuk semua lapisan guru, sedangkan kompetensi mengilustrasikan dongeng hanya di isyaratkan bagi guru TK saja.

Kompetensi Umum.

  • Theory Of Competence menurut Mc Clayland.

Kesadaran pentingnya waktu.

  • Gagasan Norman Dodl mengenai Taxonomy For Teachers Competencies.

Kompetensi Guru untuk assessing and evaluating students behavior.

Mengenal jiwa anak didik merupakan syarat mutlak dalam proses pembentukan kepribadian individu, Kelainan kelainan atau kesulitan-kesulitan dalam kepribadian anak-anak didik itu pada umumnya dapat kita ketahui melalui tingkah lakunya.

  • Kompetensi Guru untuk Planning Instruction.
  • Kompetensi Guru untuk Conducting or implementing instruction.

Conduct dapat kita asosiasikan dengan conductor dari suatu pagelaran orkes, seorang pemimpin pagelaran. To implement berarti to perform atau fulfill, menampilkan atau melaksanakan interaksi PBM.

1. Stuktucturing.

Pengantar, Inti, Penutup.

2. Motivating and reinforcing.

Memotivasi kepada anak didik agar lebih bergairah belajar.

3. Conducting discussions/small group activities.

4. Conducting individual activities.

Pengamatan yang dilakukan Guru terhadap didiknya selama waktu-waktu beristirahat, pada ekstrakurikuler aktivitas.

5. Presenting information.

Kemampuan Guru jenis ini tidak saja berupa ceramah, meliankan pula mencakup informasi tertulis.

  • Kompetensi Operating Hardware

Alat-alat pembantu komunikasi pendidikan, seperti OHP, projector dsb.

  • Kopmpetensi Performing administrative duties.

Menyelenggarakan atau menjalankan kewajiban yang ada sangkut pautnya dengan admistrasi sekolah.

  • Kompetensi Comunicatting.

Komunikasi yang dihadapai ialah, diri sendiri, anak didik, atasan, masyarakat termasuk orang tua murid.

  • Kompetensi Developing Personal Skills.

Pengembang keterampilan pribadi ini perlu dilkukan secara kontinyu.

  • Kompetensi Developing pupil self.

Kegiatan developing selalu bermodalkan potensi-potensi yang sudah ada pada sia anak itu sendiri.

KESEHATAN MENTAL, SUATU ASPEK DARI TUJUAN

PENDIDIKAN KITA

Apakah kesehatan mental itu ? bahwa mendengar istilah mental iilnes orang berkecendrungan, untuk mengasoasikannya dengan keadaan mental yang berbau gila. Sifat gila itu terdapat pada taraf tidak normal, pada tingakatan abnormal sedangkan penyakit mental dapat diderita oleh manusia-manusia normal.

Sifat-sifat yang mempunyai mental sehat adalah

  • Memiliki pertimbangan objective, kemampuan untuk memandang segala maca kejadian secara jujur dan teliti, seadanya tanpa menmbah atau menguranginya.
  • Autonomy yaitu kemampuan seorang untuk memperlaukan kejadian-kejadian sehari-hari atas pertimbangan sendiri yang mandiri dan dewasa.

Ciri-ciri yang menandai otonomi, oleh Robert Peck diperinci sebagai berikut :

    1. Initiative, inisiatif .
    2. Self-directing, suatu sifatt berani menetapkan arah hidup atau perbuatan yang diyakininya.
    3. Emotional Maturity yaitu kedewasaan emosi.
    4. Self realizing drive yaitu melakukan pekerjaan yang berguna dengan penuh kesungguhan hati.
    5. Self accetence yaitu sikap yang tidak menunjukan penyesalannya atas kehadirannya didunia ini, yang menerima hidupnya dengan gembira sikap positif.
    6. Respect for others yaitu menaruh rasa hormat terhadap orang lain, sikap menerima orang lain sebagai sesame manusia yang memliki sifat-sifat manusiawi, hak-hak, kewajiban kegenaran dan kebenciannya.

PENGARUH SEKOLAH YANG BERSIFAT PSIKOSOSIAL

Kesehata mental seorang murid itu dipengaruhi oleh beberapa perangkat orang-orang yang trdapat dalam system persekolahan. Yang jelas sekali ialah pengaruh dari interaksi langsungn dengan guru kelasnya.

  • Peranan Penjaga dan Kepala Sekolah.

Kepala sekolah dan penjaga sekolah berpengaruh besar sekali terhadap perkembangan sikap mental anak-anak didik.

  • Peranan Tema-Teman Sebaya dan Guru.

Di SD pengaruh teman sebaya itu menduduki ranking kedua setelah guru, sedangkan di SMP, SMA kedudukannya menjadi terbalik.

Julukan-julukan guru seperti :

  • Suri Tauladan dalam sikap, ucapan tingkahlaku.
  • Director of Leraning. Pemberian arah dalam proses perubahan-perubahan tingakah laku si anak didik.
  • Inovator ; Penyebardan pelaksana ide-ide baru demi peningkatan mutu pendidikan/pengajaran.
  • Motivator ; Penggali, pemupuk, penggali motivasi.
  • Conductor of learning ; guru seolah-olah seorang dirigent suatu orkes yang dimainkan oleh didiknya.
  • Manager of learning; guru mengelola kelas, juga melakukan pengawasan atas didiknya.

Faktor-faktor manakah yang berpengaruh terhadap ketentraman guru ?

  • Relasi Guru Kepala Sekolah

Dorongan dari Kepala Sekolah kepada guru-guru bawahannya, besar sekali pengaruhnya yang positif terhadap moral dan kesehatan mental guru-gruru itu.

  • Relasi Guru – Kelas Asuhannya.

Banyak sekali cara yang dapat kita tepuh yang membawa kita kea lam famikiarisasi itu seprti :

– Kontak langsung : Pada waktu diluar kelas.

– Kontak Tidak langsung : angket, wawancara.

  • Relasi Guru Antara Sesamanya.

Di kalangan guru jarang sekali terdapat pertentangan-pertentangan-pertentangan yang berarti.

  • Relasi Guru dengan orang-orang di luar lingkungan Sekolah.

USAHA-USAHA PENGUKURAN KESEHATAN MENTAL

ANAK-ANAK SEKOLAH

Proses identifikasi kasus pada anak-anak didik sebagai berikut :

1. Observasi oleh guru.

2. Wawancara dengan murid dan orangtua.

3. Penilaian sendiri oleh anak-anak didik kita.

4. Penilaian oeh teman ( sosiometri ).

5. Free respons method, otobiografi, essay.

6. Teknik projektif.

KESEHATAN MENTAL ANAK-ANAK DAN KEBUTUHANNYA.

  • APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN PHYSIOLOGI CAL NEED ITU ?

Yaitu segala kebuthan yang berkaitan dengan alat-alat tubuh serta gejala-gejala fisik mahkluk hidup dalam hal ini : manusia yang harus dipelihara dan dikmbangkan sesuai dengan irama yang tertentu.

  • SAFETY NEED

Yaitu kebutuhan setiap individu, yang pemenuhannya menimbulkan sautu perasaan aman pada diri yang bersangkutan : rasa tentram. baik fisik maupun emosional.

  • LOVE NEED.

Rumah merupakan pusat utama untuk pemenuhan love needs sianak, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang. Menurut pengamtan dan penyelidikan dapat dipastikan, bahwa anak-anak yang tidak atau kurang mendapatkan perlakuan yang mengandung cinta dan kasih sayang selama masa kanak-kanaknya, dalam perkembangn selanjujtnya, baik dalam aspek fisik, mental emosional, akan mendapat hanmbatan-hambatan yang kurang menguntungkan untuk keseahatan mental selanjutnya.

  • ESTEEM NEED.

Kebutuhan akan penghargaan, persetujuan, atau penghormatan orang lain terhadap seorang individu, ialah kebutuhan seseorang untuk merasakan bahwa dia itu seorang manusia yang patut dihargai, dihormati sebagai manusia yang baik.

  • SELF ACTUALIZATION.

Kegiatan psihis yang tidak dipkasakan dari luar, sehingga self actualization itu merupakan sifat yang potensial sekali dari mental yang sehat.

Cara mengajar Aktif tahap demi tahap

  • Phsycological need.

Daya Rungu ( pendengaran ) murid hendaknya dibiasakan untuk menangkap informasi, problema atau suruhan yang dating dari Guru dan dari teman-temannya dsb.

Tidak sedikit usaha yang dapat kita lakukan untuk melatih daya tangkap telinga itu. Misalnya :

– Dikte dalam segala variasinya.

– Tidak mengurangi pertanyaan Guru.

– Tiak dibiasakan memakai dalam ruangan kecil.

– Suara Guru kadang-kadang dikekang.

  • Penglihatan ( Netra )

Yaitu memperlihatkan cara-cara duduk si anak, supaya jarak mata halaman bacaan tidak merusaknya.

  • Safety need.

Sianak akan merasa aman dan tidak takut untuk digolongkan kedalam kelompok pendiam, oleh karena guru yang menterapkan CBSA memberi cukup kesempaan kepada seluruh kelas untuk memupuk keberaniannya melalui pertanyaan –pertanyaan dan reinforcements.

  • Love need.

Perhatian Guru yang ditujukan kepada anak-anak didiknya melalui pertanyaan-pertanyaan.Interaksi Guru murid yang demokratis tidak akan menimbulkan perasaan dianak tirikan atau sebaliknya,ada pemerataan kasih sayang dikalangan anak didik itu.

  • Esteem need.

Reaksi-reaksi positif yang membesarkan hati dari teman-teman atau Guru dan orang-orang lain terhadap penyelesaian tugas yang dibebankan kepadanya.

  • Self actuization.

Setiap orang, termasuk anak-anak, selau mempunyai keinginan untukk mendapat kepercayaan orang lain.

PENGARUH KESEHATAN MENTAL TERHADAP PROSES

BELAJAR MENGAJAR

  • Tingkah laku seorang anak penakut yang neorotis.

Anak penakut yang neorotis itu takut akan segala sesuatu yang berhubungan dengan segi kehidupan dalam masyarakat. Segala pengalaman hidup dihadapinya dengan bermacam kombinasi antara kekecewaan yang terlalu subjektif dan kebencaian yang apriori. Rasa takutnya itu seringkali dimanifestasikannya dalam gejala-gejala fisikseperti gangguan pencernaan, mulas-mulas, sering kebelakang, gugup, sulit tidur, sesak pernafasan dan gejala-gejala lainnya.

  • Apakah yang dilakukan Guru?

Setiap anak dalam suatu kelas kadang-kadang menunjukan tingkah lakunya yang menggambarkan kegelisahan disebabkan salah satu kebutuhan memntalnya tidak atau kurang terpenuhi. Guru yang berpengalaman dapat mengetahui pula, bahwa segala penyimpangan-penyimpangan tingkah laku yang dilakukan sianak dirumah, bagaimanapun juga parahnya, dapat diperbaiki di sekolah. Harus diusahakan supaya sianak yang bersangkutan di sekolah tidak mendapat kesempatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan self esteem anak sendiri dengan jalan antara lain memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada padanya untuk mencapai pemenuhan kebutuhan secara optimal.

KESEHATAN MENTAL FIHAK GURU

Dalam berbagai pidato, baik yang resmi maupun dikalangan kekeluargaan, selau terdengar pendapat, bahkan keyakinan, bahwa nasib Bangsa itu sebenarnya ada tangan Guru. Guru yang berkewajiban untuk memupuk dan memelihara kesehatan mental anak-anak, terlebih dulu dia sendiri harus memiliki bekal yang cukup kuat dalam bidang mental helth itu.

  • Pemenuhan Kebutuhan Yang bersifat Eksploitatif.

Jika ditinjau dari cara-cara pemenuhan kebutuhan dilaksanakan, pekerjaan Guru

Itu merupakan suatu hal yang unik juga. Dalam mengajar itu, kadang-kadang terbuka kesempatan untuk melaksanakan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya altruistic dan ada pula yang egoistic, yang merugikan orang lain da ada pula yang destruktuf, yang neurotic dsb.

Beberapa bentuk pemenuhan yang neorotik antara lain dikenal sebagai :

  • Mother hen complex, induk ayam kompleks.

Guru yang menderita mother hen complex menganggap dirinya sebagai seorang induk yang berkuasa, yang memperlakukan kelasnya sebagai suatu kelompok anak-anak itu dibungkammnya melalui keindukannya serta selalu mengharapkan dari anak-anak asuhannya suatu imblan dalam bentuk kepatuhan, berupa tingkah laku yang menceminkan ketaatan yang mutlak.

  • Habit of comman Complex.

Jenis pemenuhan kebutuhan mental yang neurotic ini kadang-kadang saling liput meliput atau overlapping yang satu dengan yang lainnya dengan mother hen complex. Guru-guru yang terus menerus berurusan dengan jiwa anak-anak didiknya yang belum dewasa dan yang secara tetap dan teratur mempergunakan hak-hak istimewanya untuk kelompok-kelompok anak-anak asuhannya.

  • Self Acceptance.

Ciri-ciri manusia yang memiliki self acceptance menurut penuturan Elizabeth Sherer.

– Kepercayaan atas kemampuannya untul dapt menghadapi hidupnya.

– Mengnggap dirinya sederajat dengan orang-orang lain.

– Tidak menganggap dirinya sebagai orang hebat atau abnormal dsn tidsk mengharapkan bahwa orang lain mengucilkannya.

– Tidak malu-mali kucing atau serba takut dicela orang lain.

– Mempertanggung jawabkan perbuatannya.

– Mengikuti standard pola hidupnya sendiri dan tidak ikut-ikutan .

– Menerima pujian atau celaan secaro objektif.

– Tidak menganiaya sendirin dengan kekangan-kekangan yang berlebih-lebihan atau tidak memanfaatkan sifat-sifat yang luar biasa.

– Menyatakan perasaanya dengan wajar.

FAKTOR FAKTOR PENGHALANG DALAM UPAYA

PEMUPUKAN KESEHATAN MENTAL DI SEKOLAH

Dalam melakukan tugasnya di sekolah, kadang-kadang Guru itu menemui rintangan-rintangan yang mempengaruhi secara negatif kemantapan kesehatan mentalnya, terutama sekali dalam soal memenuhi kebutuhan –kebutuhan mentalnya yang tertentu. Kurangnya rasa tenggang menenggang antara guru-guru dalam lingkungan yang demikian itu mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap integritas anak-anak didik sendiri.

Manajer sekolah yang bijaksana dapat menghilangkan rasa jenuh para Guru misalnya dengan jalan.

  • Menentukan timing yang baik dengan misalnya memilih waktu yang sedikit-banyak membawa angina gembira seperti pada pembagian honor, waktu menjelang menerima gajian, ada syukuran dan sebagainya.
  • Menyaring dan menetapkan pokok acara yang menyangkut prinsip.
  • Waktu yang tidak menyebabkan beban mental.

PENGARUH KESEHATAN MENTAL GURU TERHADAP

PROSES BELAJAR MENGAJAR

Seorang Guru yang mentalnya sehat serta mantap, pada umumnya dapat dilukiskan sebagai seseorang yang mandiri. Guru semacam itu adalah orang yang bebas, yang tidak terikat atau terganggu oleh problema-problema pribadi yang dapat menguras sebagian dari energi emosionalnya, sehingga sedikit sekali tenaga yang menyisa yang diperlukan untuk melakukan tugasnya sebagai guru. Ia bebas dari segala ikatan dan hanya menghadapi murid-muridnya.

  • Pengaruh Negatif Dari Mental Yang Kurang Sehat.

Problema-problema pribadi yang berkaitan dengan frustasi dalam jumlah yang tidak sedikit itu, dapat merupakan pengurangan tenaga dan menjadi penghalang agi terselenggaranya PBM yang efektif.

PEMELIHARAAN KESEHATAN MENTAL SEKOLAH

Berat ringannya pekerjaan dalam pemeliharaan mental yang harus dilakukan di sekolah, tergantung dari beberapa factor yang menentukan.

  • Tujuan atau Target.

Tujuan atau target yang harus dicapai dalam upaya pemupukan dan pemeliharaan mental health. Tujuan pendidikan yang sudah dijadikan TAP MPR, target yang harus kita capai ialah manusia pembangunan pancasilais yang sehat jasmani dan rohaniahnya.

  • Faktor Guru.

Guru sebagai pemegang kunci keberhasilan pendidikan formal, selain dipsenjatai dengan rasa kasih sayang, ilmu dan keterampilan yang relevan dengan tugasnya.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: