Skip to content

Akhirnya Mahasiswa Di Riau Demo PLN!!!

28 Oktober 2009

UNGKAPAN YANG TERTUANG DAN PANTAS DIKETAHUI OLEH PENGUASA DI NEGERI INI KARENA PADA MASA ORBA (ORDE BARU) MAHASISWA YANG MENURUNKAN JABATAN PRESIDEN

Mahasiswa segan dengan dosen

Dosen dengan dengan Rektor

Rektor Segan dengan Mentri

Mentri Segan Presiden

Presiden Segan dengan Mahasiswa

Hidup Mahasiswa …Mahasiswa Kritis membangun bangsa yang bermartabat dan bebas dari KKN yang membudaya!!!

demo-mahasiswa-plnUngkapan itu lah yang pantas diberikan kepada PLN di Indonesia yang telah merusak kreatifitas anak muda Indonesia khususnya di Riau. Mati lampu (Listrik) yang semena-semena membuat mahasiswa di Riau mendemo pihak PLN. Dan memberikan 5 tuntutan yang perlu ditanda tangani dan disetujui. Kapan krisis listrik yang berkepanjangan ini akan berakhir. Riau dengan negeri yang kaya dengan dengan sumber daya alamnya, namun “miskin: sumber daya alam. Terbukti dengan masalah yang telah terjadi ini.

Demo yang dilakukan mahasiswa membangkitkan naluri saya untuk mendukung selalu. Karena dengan demikian pihak PLN akan mengerti, sabar ada batasnya!!!

Berikut berita selengkapnya berdasarkan sumber riau pos.com. RATUSAN mahasiswa yang bergabung menjadi Gerakan Mahasiswa Riau Peduli Listrik memenuhi kantor PLN Wilayah Riau di Jalan Setia Budi Pekanbaru, sekitar pukul 11.00 WIB Selasa (27/10).

Mereka mengajukan lima tuntutan terhadap Kepala Cabang PLN baru setelah serah terima jabatan. Karena tidak bisa memenuhi tuntutan mereka, mahasiswa akhirnya bubar dan menyegel pagar kantor wilayah tersebut.
Terlihat mahasiswa tersebut berasal dari berbagai almamater, di antaranya BEM UNRI, STIKES, UIN, UIR, STIKIP, HMI, KAMMI, dan GMNI. Mereka berteriak dan memakai alat pengeras suara meneriakkan aspirasi mereka. Berganti-ganti mereka berorasi sampai berkeringat dan suara parau di depan pintu gedung PLN tersebut.

Mereka mendesak agar PLN segera mengevaluasi General Manager PLN Riau Kepri dan jajarannya, menurunkan biaya pembayaran listrik masyarakat sebagai kompensasi tehadap ketidak profesionalan PLN. Mereka juga menuntut pemerintah pusat untuk segera menganggarkan dana pembangunan pembangkit tenaga listrik di Riau. Di bidang pendidikan mereka menuntut agar PLN menghentikan pemadaman listrik di seluruh instansi pendidikan.
Jika pihak PLN tidak mampu memenuhi butir-butir tuntutan yang mereka sampaikan, maka mereka juga meminta General Manager PLN dan jajarannya untuk mundur.

Akhirnya, setelah banyak yang berorasi, Kepala Cabang PLN yang baru, Ilham Santoso menghampiri mereka dan berusaha mendekati dengan bersalaman. Baru dua orang yang disalami oleh Kepala Cabang yang baru tersebut, teriakan ‘’Hati-hati musang berbulu domba’’ menggema dari deratan belakang mahasiswa pendemo.
Mahasiswa yang tadinya sedang duduk memenuhi pelataran di depan gedung rapat PLN serentak berdiri dan merapat ke bagian depan. Sebagian dari mereka juga berteriak mengingatkan teman-temannya yang lain, agar tidak mau dipisahkan dari rombongan.

Kemudian Kepala Cabang yang baru tersebut menempatkan diri di hadapan semua mahasiswa pendemo meminta maaf atas ketidak nyamanan pemadaman dan berusaha mengajak berdialog agar mahasiswa tersebut mengirimkan perwakilan mereka. Cara ini ditempuh agar perwakilan tersebut dapat berdialog dalam ruangan dan tidak berada di pelataran tersebut.
Mahasiswa tetap tidak mau. Mereka menuntut pertangung jawaban PLN atas kondisi pemadaman dan solusi dan pihak PLN menandatangani bahwa akan menyelesaikan hal yang mereka tuntutkan.
‘’Saya tidak bisa menyulap kondisi ini menjadi baik dan pemadaman berhenti tanpa adanya pembangkit listrik,’’ ujar Ilham di hadapan ratusan mahasiswa tersebut.

Ilham yang merasa tidak mampu menjanjikan dan menandatangani kesepakatan solusi tanpa adanya pembangkit listrik yang baru, akhirnya hanya bisa pasrah dengan bubarnya mahasiswa dan menyegel pagar PLN tersebut.
Presiden Mahasiswa UNRI, Anshori bersama Ketua HMI Cabang Pekanbaru Handiro, mengatakan bahwa ternyata pihak PLN tidak berani sepakat atas desakan yang mereka sampaikan. ‘’Kita mendesak mereka agar lebih jelas dan membuat masterplan yang lebih baik,’’ ujar.
Saat ditanya sampai kapan mereka akan menyegel pagar PLN tersebut, Anshori mengatakan bahwa itu terserah koordinator lapangan mereka. Tapi yang jelas mereka akan meneruskan aksi awal mereka tersebut untuk mengubah kebijakan PLN agar jadi lebih baik untuk masyarakat. Kemudian mereka bersama-sama meninggalkan kantor PLN tersebut.

Baru lima belas menit setelah mahasiswa tersebut membubarkan diri dan meninggalkan kantor PLN Wilayah Riau tersebut dalam kondisi pagar yang tetap terkunci dengan gembok dan rantai, pihak sekuriti melepaskan gembok tersebut dengan menggunakan martil. Di lokasi tersebut masih terlihat banyak polisi dari Mapolsekta Limapuluh yang menjaga kondisi sejak awal demo berlangsung.

Kapolsek Limapuluh, AKP Ferli Rosa Putra SIk mengatakan, bahwa dikerahkan sebanyak 90 personel polisi dalam menjaga kondisi saat demo berlangsung.
Saat ditanya alasan apakah sehingga gembok pagar yang dipasang mahaiswa tersebut bisa dilepaskan, Ferli mengatakan, untuk alasan kepentingan bersama. Dia dan pihak PLN sepakat untuk melepaskan gembok pagar tersebut. Maka akhirnya pihak sekuriti PLN dikerahkan untuk memukul gembok itu dengan martil.
Setelah gembok dilepas, pagar tersebut dibuka lebar-lebar dan mobil-mobil keluar dari kantor PLN itu. Anggota polisi juga akhirnya meninggalkan kantor tersebut.

Mahasiswa adalah Intelektual Muda yang kaya dengan pikiran dan kejernihan hati yang belum terkontaminasi nikmatnya sebuah jabatan, pangkat dan kekayaan, TERUSKAN PERJUANGAN MU MAHASISWA!!!

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: