Skip to content

Pembelajaran Konstektual dan Motivasi Siswa

12 Februari 2010

Pembelajaran Konstektual dan Motivasi Siswa

Pembelajaran Konstektual dan Motivasi Siswa

Selama ini kita menyadari bahwa kelas-kelas kita tidak produktif. Sehari-hari kelas hanya diisi  dengan ceramah, sementara siswa dipaksa menerima dan menghafal materi pelajaran yang diberikan.

Dengan pendekatan kontekstual (CTL) yang mengutamakan strategi belajar daripada hasil, siswa  diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ dengan mengkonstruksi pengetahuan yang dimilikinya dan  menerapkan pada situasi dunia nyata siswa, dapat mengubah anggapan kelas yang kurang produktif  menjadi kelas yang aktif dengan pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning).

Proses pembelajaran di kelas menjadi aktif dan kreatif, karena siswa membangun sendiri  pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif di kelas, jadi siswa menjadi pusat kegiatan bukan  guru. Kegiatan inquiry dan bertanya merupakan salah satu strategi dalam model pembelajaran  kontekstual atau CTL  untuk menggali sifat ingin tahu siswa. Selain itu keberadaan masyarakat  belajar menjadi nilai plus dalam pembelajaran karena siswa tidak belajar sendiri tetapi saling  bekerja sama (belajar dengan kelompok-kelompok) agar pengetahuan dan  pemahaman lebih mendalam.

Sehingga menimbulkan kegairahan belajar siswa karena adanya kebersamaan dalam memecahkan masalah,  siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang lemah.

Kemudian adanya pemodelan sebagai contoh pembelajaran dapat meningkatkan semangat siswa untuk  mencoba meniru seperti apa yang telah dilihatnya, dengan demikian siswa tidak mengalami kesulitan  dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Dalam pendekatan kontekstual refleksi merupakan peranan  penting, yaitu siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru  yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan begitu, siswa merasa  memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru saja dipelajarinya.

Yang terakhir, adanya authentic assessment untuk menilai kemampuan yang dimiliki siswa tidak  hanya dari hasil ulangan tetapi dari kegiatan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran di  kelas. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar Bahasa Inggris bagi para siswanya harus  mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para siswa menggunakan Bahasa Inggris bukan pada saat  para siswa mengerjakan tes Bahasa Inggris. Jadi siswa semakin tertarik dengan pembelajaran model kontektual atau CTL karena mereka memperoleh nilai tambahan dari kegiatan pembelajarannya di  kelas yang dapat mempengaruhi nilai akhirnya.

Dengan demikian, hasil belajar siswa sebagai tolak ukur yang harus diuji kebenarannya. Untuk  hal ini hasil belajar siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran  kontektual atau CTL diperbandingkan dengan hasil belajar siswa yang menempuh proses belajar  mengajar dengan model pembelajaran konvensional. Hasil analisis data dalam penelitian ini  menunjukkan bahwa siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran model kontektual atau CTL hasil belajarnya berbeda secara signifikan dan lebih baik daripada siswa yang  menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional.

Perbedaan hasil belajar tersebut ditunjukkan oleh rata-rata hasil belajar, antara kelompok  siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran kontektual CTL dengan siswa  yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional. Seperti hasil  sebuah kajian bahwa hasil t-test sebesar 1,855 dan t tabel sebesar 1,69 menerima hipotesis  penelitian yang menyatakan siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran  kontektual atau CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar  mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

Dengan demikian tidak diragukan lagi oleh guru, bahwa model pembelajaran kontektual atau CTL  lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran tradisional. Maka dari itu, kiranya guru dapat  mengaplikasikan model ini dalam pembelajaran yang dilakukan guru. Guru pada dasarnya juga dapat  menguji dan meneliti bagaimana dampak model pembelajaran kontektual dapat memberikan hasil  maksimal bagi siswa, apakah itu benar ?, dan jangan guru terpancing dengan temuan-temuan  peneliti, dan guru juga harus dapat menguji dengan melalui penelitian tindak kelas atau action  research classroom.Kalau benar, maka tentunya guru akan menggunakan dalam pembelajarannya, dan  tentunya guru juga harus menularkan kepada guru-guru lainnya yang masih berkutat kepada model  pembelajaran tradisional. Semoga. Source:Xpresi.com.  Artikel Pendidikan ini oleh: Prof Isjoni MSi Phd

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: